Siapa yang menginginkan bencana itu terjadi. Kita semua pasti akan menolak datangnya hal itu. Namun itulah wadah kita untuk proses penyadaran dan proses kepedulian. Batin terkadang menangis saat melihat beberapa orang, ya...hanya beberapa saja yang peduli, tetapi apa yang sanggup kita lakukan, adalah hasil dari pemahaman kita selama ini tentang keberadaan insan lain di sekitar kita.
Tingkat ketakwaan kita sebagai umat Muslim akan terasah saat ada saudara kita tertimpa bencana. Butuh waktu untuk mengerti hal ini namun tindakan taktis sangat berperan dalam pengambilan metode pertolongan pertama pada masyarakat bencana. Tindakan strategis akan mampu membenamkan kesedihan dan masalah yang ditimbulkan oleh bencana itu. Tindakan reaktif sangat tidak cocok untuk penanggulangan bencana.
Pemerintah dan masyarakat kita di Indonesia hanya memiliki tindakan reaktif. Seperti, turun ke jalan-jalan mengumpulkan dana taktis untuk disumbangkan ke mereka. Pemerintahpun demikian hanya memikirkan dari satu bencana ke bencana yang lain. mengapa kita tidak membuat program strategis penanggulangan bencana yang lebih mapan. Coba lihat di film-film barat, dimana tim saintis nya atau LIPInya selalu siap menghitung dan menafsirkan daerah bencana dan tingkat kerusakan yang bisa terjadi sehingga dana APBN bisa dialokasikan jauh-jauh hari untuk membantu korban bencana.
Ini hanyalah ide, ini hanyalah kritik dan ini hanyalah saran untuk saya pribadi dan siapa pun yang telah berada di lapangan. Saudaraku, kita memang butuh langkah nyata namun bukan hanya kita yang bisa peduli. Mari kita gerakkan hati pasif saudara kita yang lain menjadi aktif sehingga bukan hanya para mahasiswa yang turun ke jalan untuk meminta sumbangan, akan tetapi, masyarakat kita memang telah menyediakan pundi-pundi kepeduliannya di rumah masing-masing dan menyalurkannya pada badan pemerintah yang bisa mengakumulasi nilai bantuan tersebut, sehingga bukan hanya pada saat bencana hal itu dilakukan tapi jauh hari sebelumnya dana strategis bencana telah disipkan. Salam dahsyat.
Tingkat ketakwaan kita sebagai umat Muslim akan terasah saat ada saudara kita tertimpa bencana. Butuh waktu untuk mengerti hal ini namun tindakan taktis sangat berperan dalam pengambilan metode pertolongan pertama pada masyarakat bencana. Tindakan strategis akan mampu membenamkan kesedihan dan masalah yang ditimbulkan oleh bencana itu. Tindakan reaktif sangat tidak cocok untuk penanggulangan bencana.
Pemerintah dan masyarakat kita di Indonesia hanya memiliki tindakan reaktif. Seperti, turun ke jalan-jalan mengumpulkan dana taktis untuk disumbangkan ke mereka. Pemerintahpun demikian hanya memikirkan dari satu bencana ke bencana yang lain. mengapa kita tidak membuat program strategis penanggulangan bencana yang lebih mapan. Coba lihat di film-film barat, dimana tim saintis nya atau LIPInya selalu siap menghitung dan menafsirkan daerah bencana dan tingkat kerusakan yang bisa terjadi sehingga dana APBN bisa dialokasikan jauh-jauh hari untuk membantu korban bencana.
Ini hanyalah ide, ini hanyalah kritik dan ini hanyalah saran untuk saya pribadi dan siapa pun yang telah berada di lapangan. Saudaraku, kita memang butuh langkah nyata namun bukan hanya kita yang bisa peduli. Mari kita gerakkan hati pasif saudara kita yang lain menjadi aktif sehingga bukan hanya para mahasiswa yang turun ke jalan untuk meminta sumbangan, akan tetapi, masyarakat kita memang telah menyediakan pundi-pundi kepeduliannya di rumah masing-masing dan menyalurkannya pada badan pemerintah yang bisa mengakumulasi nilai bantuan tersebut, sehingga bukan hanya pada saat bencana hal itu dilakukan tapi jauh hari sebelumnya dana strategis bencana telah disipkan. Salam dahsyat.

Comments
Post a Comment
Terima kasih untuk masukannya di blok kami.
Assalam-Ashufi